Kamis, 18 Maret 2010

Manunggaling kawulo gusti ala Islam

Ma’rifatullah, pada intinya adalah mengenal Allah. Di dalam tasawuf—ada tahap-tahap yang dilalui : Syariat, Tariqat, seterusnya Hakikat, dan terakhir adalah Ma'rifat. Pada puncak inilah seorang hamba mengenal pencipta-NYA. Saking mengenalnya maka seolah berpadu. Orang bilang ini, "manunggaling kawulo gusti". Tapi hendaknya dipahami BERPADU disini tidak berarti melebur menjadi satu hingga muncul “Tuhan adalah Aku, Aku adalah Tuhan” seperti “manunggaling kawulo gusti”-nya Fir’aun beberapa abad sebelum masehi yang lalu.

Berpadu, artinya terdiri dari entitas yang berlainan yang masing-masing punya peran dan fungsi berbeda tetapi rela untuk berpadu. Dalam pada itu keduanya memberi warna dalam bingkai ma’rifatullah yang tegas, yang selama tak dilanggar batas-batasnya maka lukisan itu (hidup dan kehidupan) menjadi indah dalam bingkainya.

Sirkuit Syariat (aturan, peribadatan, praktek, amalan, dsb) –melalui Tariqat (jalan, pencarian, pencapaian, pemahaman) – untuk kemudian mencapai Hakikat (hakiki, kesejatian, absolut) – dan pada akhirnya Ma’rifat (mengenal) adalah stasiun-stasiun yang umum dilewati para sufi. Ujungnya, Allah-nya. Pangkalnya, Allah-nya juga.

Seseorang yang shalatnya benar, rukunnya benar, maka pahamnya benar, maka akan mendapatkan kesejatian yang benar, dan mengenal Allah dengan benar. Hamba yang mengenal Allah dengan benar maka shalatnya pun benar, rukunnya benar, pahamnya benar, dan kesejatian yang didapatinya pun benar.

Itulah Ma’rifatullah, dimana hamba menyadari hak dan kewajibannya kepada Allah, sebagaimana Allah telah memenuhi hak dan kewajiban-NYA kepada hamba-NYA.

Ini semua merupakan siklus yang berulang. Sampai di titik Ma’rifat bukan berarti putus segala hak dan kewajiban hamba kepada-NYA. Sebaliknya, justru semakin menyempurnakan Syariat, Tariqat dan Hakikat, untuk kemudian mencapai titik siklus Ma’rifatullah untuk kesekian kalinya. Persis seperti puncak ombak yang akhirnya turun dan memecah lautan, bergerak, beriak, untuk kemudian menciptakan puncak ombak untuk kesekian kalinya. Jadi proses Syariat-Tariqat-Hakikat-Ma
’rifat itu adalah sebuah siklus, tepatnya sirkuit tasawuf.

Siklus atau sirkuit ini harus terus diperbaharui, disempurnakan—berputar, bergerak, untuk/agar tetap “diam, mengikuti, stabil” memadu di dalam “sirkuit harmonisasi universal”. Seorang hamba yang mencapai Ma’rifatullah, bukan berarti saatnya shalatnya berhenti, puasanya cuti, dan seolah kebal dosa. Jika itu yang jadi hasilnya, berarti ia belum Ma’rifatullah, mengenal Allah, hamba menjalani hak dan kewajibannya kepada Allah, sebagaimana Allah telah memenuhi hak dan kewajiban-NYA kepada hamba-NYA. Jadi Ma’rifatullah bukanlah tempat untuk terminate. Justru sebaliknya, shalatnya (syariatnya) semakin tawaddlu karenanya. Semua itu sebagai perwujudan keterpaduan (manunggaling) tadi dimana ia semakin mengerti ada hak dan kewajiban dalam bingkai hubungan Tuhan dan hamba-NYA. Inilah namanya Kasunyatan yg sejati. Sehingga kasunyatan itu tak semata dari semedi ke semedi saja.


Fungsi Doa

Wanita sufi Rabiah Al Adawiyah, sedang berlayar bersama para penumpang lain menuju sebuah pulau kecil. Tiba-tiba badai berhembus dan ombak pun menggila di tengah samudera. Semua cemas, karena maut sudah berada di depan mata. Tetapi ada seorang anak muda berambut sampai ke telinga, terlihat cuma diam seraya bertafakkur. Padahal perahu sudah oleng ke kiri dan ke kanan, air telah menggenang hingga ke mata kaki. Seorang lelaki tua menegur marah, ”Hai, anak muda, tulikah telingamu, butakah matamu? Perahu hampir karam, kamu hanya diam. Berdoalah untuk memperkuat permohonan kami kepada Tuhan.” Dengan tenang pemuda itu menggumam, ”Tiada seorang hamba pun mampu menghalangi kehendak Sang Mahakuasa. ”Lalu ia menunduk kembali, tak ada yang dilakukan kecuali menekurkan kepala dengan khusuk, seraya mengangkat tangan seolah memberi aba-aba agar badai berhenti. Betul, tak lama kemudian, lautan yang ganas menjadi jinak, angin lantas bertiup sepoi-sepoi, dan perahu melaju tanpa goncangan.

Rabiah bertanya takjub, ”Hai anak muda, demi Allah, kekuatan apa yang kau miliki sampai badai dapat kautundukkan dan gelombang bisa kautaklukkan?” Pemuda itu menjawab ramah, ”Kalian orang-orang beriman. Bukankah kita hanya makhluk yang fana? Apa wewenang kita menolak kemauan Tuhan? Apa kekuatan kita menantang kekuasaanNya? Seharusnya, bersabarlah menahan diri dari segala keinginan kita karena Dia, nanti Dia berkenan menahan diri dari keinginan-Nya untuk kita. Jangan mengancam Dia dengan kebiasaan kita, nanti Dia menghancurkan kita dengan kedahsyatan kekuasaanNya.” Jawaban itu tak hanya membuat Rabiah terhenyak dan para penumpang lain tertegun, bahkan perjalanan zaman seakan merekamnya melalui bencana demi bencana yang datang silih berganti. Lihatlah, ilmu siapa yang mampu membungkam gunung kalau hendak meletus, kehebatan bangsa mana yang dapat meredam gempa kalau sudah saatnya harus melanda? Lalu, apakah doa dapat menangkal bencana? Menurut Tuhan, bisa. Alquran menandaskan, ”Bermohonlah kepada-Ku, pasti Kukabulkan bagimu.” (Q. S. 40: 60).

Sayangnya, manusia acapkali berdoa tanpa kesungguhan dan keyakinan akan manfaatnya. Memang mengangkat tangan sambil mengumandangkan rangkaian kata yang indah terdengar seperti doa. Padahal itu cuma upacara, hanya formalitas. Apalagi kalau dibaca di depan pejabat atau para orang besar. Pada hakikatnya getaran hati tatkala seorang hamba tengah mengangkat tangan seraya bermunajat dengan tulus dan pasrah, itulah kekuatan sakral yang mampu mengoyak batas antara makhluk dan Sang Pencipta.

Penulis: Abdurrahman Arrosi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar